Kepemimpinan Tiongkok selalu memandang angka produk domestik bruto (PDB) sebagai indikator terpenting kemampuan mereka dalam memerintah; karena itu, seluruh aparatur mereka melakukan apa pun yang bisa dilakukan, dalam hal kebijakan, untuk memastikan tercapainya tingkat pertumbuhan yang dapat diterima secara politik.
Dengan perlambatan yang terus-menerus, pemerintah harus menyesuaikan targetnya menjadi sasaran yang maksimal namun dapat dicapai. Antara 2010 dan 2015, ekonomi terbesar kedua di dunia ini mengalami perlambatan yang stabil, dengan tingkat pertumbuhan tahunan masing-masing sebesar 10,5, 9,5, 7,9, 7,8, 7,3, dan 6,9 persen. Rata-rata tingkat pertumbuhan PDB tahunan antara 1989 dan 2009 berkisar 10 persen.
Tahun lalu, pemerintah menetapkan kisaran 6,5 persen hingga 7 persen sebagai target pertumbuhan, yang terendah dalam beberapa dekade. Seperti yang diperkirakan, Tiongkok berada di jalur yang tepat untuk mencapai target 2016 tersebut setelah tiga kuartal berturut-turut tumbuh 6,7 persen.
Namun, pertumbuhan tersebut dicapai melalui kebijakan fiskal ekspansif, belanja pemerintah yang lebih tinggi, lonjakan sektor perumahan, kondisi moneter yang sangat longgar, dan penyaluran kredit perbankan yang mencetak rekor, yang juga menyebabkan lonjakan utang yang drastis.
Referensi: www.scmp.com
20 Januari 2017













