[WAWANCARA] Feng shui penting bagi bisnis di Asia: pimpinan CEO SUITE
Feng shui mungkin dianggap sekadar takhayul di tengah masyarakat yang sangat maju saat ini, tetapi Kim Mee, pendiri sekaligus presiden CEO Suite, meyakini bahwa memilih tempat terbaik dengan seni kuno ini adalah langkah pertama menuju keberhasilan bisnis di Asia.
Itulah sebabnya perusahaan ini membutuhkan waktu lebih dari lima tahun untuk membuka lokasi keduanya di Seoul, ujarnya dalam wawancara dengan The Investor di kantornya di pusat kota Seoul awal bulan ini.

Kim Mee, presiden CEO Suite
“Saya percaya Feng shui memberikan dukungan energi yang diperlukan untuk menarik kekayaan dan keberuntungan Anda. Itu salah satu faktor penentu dalam proses pemilihan lokasi,” kata Kim.
CEO Suite menyewakan kantor berlayanan penuh, dengan sebagian besar kliennya adalah perusahaan multinasional yang ingin masuk ke negara-negara Asia. Namun, tidak seperti para pesaingnya, perusahaan ini juga menyediakan berbagai macam layanan administrasi, sesuai kebutuhan.
“Kami mampu bertahan di tengah samudra merah (red ocean) karena kami berfokus menawarkan layanan yang memenuhi kebutuhan klien, tidak seperti para pesaing yang hanya menyewakan ruang,” kata Kim, yang telah mengantongi 28 tahun pengalaman di industri kantor berlayanan.
“Sementara kami menggarap positioning pasar kami yang unik, pemain industri lainnya dijual kepada investor seperti perusahaan ekuitas swasta,” ujarnya.

Kim pertama kali meluncurkan bisnis ini di Indonesia pada 1997. Dengan lokasi terbarunya di Seoul, yakni di Parnas Tower, Gangnam, yang akan dibuka pada September, CEO Suite kini mengoperasikan 19 pusat bisnis di sembilan kota Asia, termasuk Beijing, Hanoi, Shanghai, Manila, Bangkok, Kuala Lumpur, dan Jakarta.
Beberapa klien korporat ternama CEO Suite antara lain Deloitte, Ernst & Young, Samsung, dan POSCO.
Salah satu kunci keberhasilannya adalah kemampuan memenuhi permintaan klien yang terus berubah.
“Perusahaan saat ini ingin menjangkau beberapa pasar Asia sekaligus dan mencari beragam layanan dari kami, mulai dari tenaga kerja dan pelaporan pajak hingga dekorasi interior,” kata Kim.
Keunggulan lain CEO Suite dibandingkan pesaing kuat seperti Regus yang berbasis di London terletak pada pendekatannya yang disesuaikan.
“Saya percaya ada pelanggan yang ingin membeli roti dari pembuat roti artisan kecil yang memfermentasi adonan dan menangani seluruh proses pemanggangan, sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh jaringan toko roti raksasa,” kata Kim.

Karena alasan itu, Kim telah menolak berbagai tawaran merger dan akuisisi. Ia tidak ingin memperluas portofolio bisnis perusahaan ke sektor lain.
“Beberapa investor menyarankan untuk meluncurkan perusahaan konsultan bagi perusahaan rintisan, hotel butik, atau spa mewah. Sebagian ingin berinvestasi di CEO Suite, tetapi saya selalu menolak, karena dengan begitu kami tidak dapat mengambil keputusan secara independen dan mengejar keuntungan menjadi prioritas utama perusahaan,” kata Kim.
Keputusan terbarunya untuk membuka pusat di Parnas Tower, yang terletak di salah satu distrik bisnis termahal di Seoul, sejalan dengan pendekatan jangka panjang ini.
“Jika saya punya investor, mereka akan bilang saya gila karena saya bertaruh besar di Seoul meskipun sentimen pasar sedang lesu,” kata Kim.
Sejauh ini, penilaiannya tidak pernah meleset; seluruh 19 pusat menghasilkan laba. Rata-rata tingkat okupansi pusat-pusat CEO Suite mencapai 90 persen.
Tahun ini, pendapatan gabungan CEO Suite diperkirakan mencapai 45 miliar won (US$40 juta), dipimpin oleh operasinya di Tiongkok.
Perusahaan ini juga mulai melihat lebih banyak peluang di Timur Tengah, Meksiko, dan negara-negara Afrika. “Afrika dan Timur Tengah adalah kawasan tempat calon pelanggan kami sulit mendapatkan sumber daya dan informasi bisnis,” kata Kim.
Oleh: Park Han-na (hnpark@heraldcorp.com)
Artikel asli – http://www.theinvestor.co.kr/view.php?ud=20160830000790













