Dalam dekade terakhir, negara-negara Asia Tenggara menyaksikan peningkatan jumlah ekspatriat Barat yang datang dengan tujuan ambisius namun berjangka pendek. Perusahaan multinasional menawarkan paket yang murah hati kepada para ekspatriat, dengan kompensasi dan pilihan perumahan yang menarik. Para ekspatriat ini sangat bersedia datang dan bekerja di Asia demi pengalaman dan kompensasinya. Namun, kini trennya sedang bergeser.
Dalam beberapa tahun terakhir, tren perekrutan di Tiongkok telah berubah: dari mendatangkan talenta dari luar negeri, menjadi merekrut tenaga lokal. Memang benar bahwa beberapa perusahaan masih condong pada talenta asing karena pengalaman mereka, tetapi kini mereka lebih memilih merekrut ekspatriat yang telah tinggal minimal lima tahun di negara tersebut.
Perilaku yang sama juga terlihat di Singapura, di mana para ekspatriat menerima paket gaji lokal alih-alih paket khusus ekspatriat. Hal ini dimulai pada tahun 2009, ketika survei terhadap 200 perusahaan mengungkapkan bahwa 21% tenaga kerja ekspatriat sudah menerima gaji lokal, dengan tunjangan seperti sebagian tunjangan perumahan.
Dengan pusat-pusat di Singapura, Tiongkok, dan Jakarta, CEO SUITE telah menyaksikan pesatnya perkembangan kota-kota ini dalam beberapa tahun terakhir yang justru lebih mengutamakan perekrutan talenta lokal. Di Jakarta, Kementerian Ketenagakerjaan telah menetapkan bahwa perusahaan harus mengikuti rasio 10:1 yang mengutamakan karyawan lokal dibandingkan ekspatriat. Hal ini mengakibatkan menurunnya jumlah tenaga kerja asing di Jakarta — dari 68.957 pada 2013 menjadi 64.604 pada 2014. Bahkan, ekspatriat di Indonesia kini diwajibkan mempelajari Bahasa Indonesia sebelum mendapatkan izin kerja.
Semua ini telah mengakibatkan semakin kecilnya selisih upah antara tenaga lokal dan ekspatriat. Akibatnya, paket kompensasi tidak lagi terutama bergantung pada negara asal kandidat, melainkan pada penawaran dan permintaan talenta secara keseluruhan. Oleh karena itu, dengan semakin beragamnya kumpulan talenta di Asia, baik pekerja lokal maupun asing dituntut untuk menonjolkan keunikan mereka, dipadukan dengan pengetahuan lokal dan global. Dengan begitu, mereka akan mampu menarik perhatian bisnis di Asia dan juga bertahan dalam persaingan.













